Showing posts with label tokoh islam. Show all posts
Showing posts with label tokoh islam. Show all posts

Friday, 9 May 2014

Ali bin Abi Thalib

Khalifah Islam Ke-4Ali
Khalifah Ar-Rasyidin
Lahir
Ali bin Abi Thalib
599
Mekkah, Jazirah Arab (Sekarang
Saudi Arabia)
Meninggal
28 Januari 661
Tempat peristirahatan
Najaf , Irak
Dikenal karena
Sahabat Nabi Muhammad
Agama
Islam
‘Alī bin Abī Thālib (Arab : ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ
ﻃﺎﻟﺐ , Persia : ﻋﻠﯽ ﭘﺴﺮ ﺍﺑﻮ ﻃﺎﻟﺐ ) (lahir
sekitar 13 Rajab 23 Pra Hijriah/ 599 –
wafat 21 Ramadan 40 Hijriah/ 661 ),
adalah salah seorang pemeluk Islam
pertama dan juga keluarga dari Nabi
Muhammad. Menurut Islam Sunni, ia
adalah Khalifah terakhir dari
Khulafaur Rasyidin. Sedangkan
Syi'ah berpendapat bahwa ia adalah
Imam sekaligus Khalifah pertama
yang dipilih oleh Rasulullah
Muhammad SAW. Uniknya meskipun
Sunni tidak mengakui konsep
Imamah mereka setuju memanggil
Ali dengan sebutan Imam, sehingga
Ali menjadi satu-satunya Khalifah
yang sekaligus juga Imam. Ali adalah
sepupu dari Muhammad, dan setelah
menikah dengan Fatimah az-Zahra , ia
menjadi menantu Muhammad .
Perbedaan pandangan mengenai
pribadi Ali bin Abi Thalib
Syi'ah
Bagian dari artikel tentang
Imam Syi'ah
Dua Belas Imam
Ali bin Abi Thalib
Hasan al-Mujtaba
Husain asy-Syahid
Ali Zainal Abidin
Muhammad al-Baqir
Ja'far ash-Shadiq
Musa al-Kadzim
Ali ar-Ridha
Muhammad al-Jawad
Ali al-Hadi
Hasan al-Askari
Muhammad al-Mahdi
lihat bicara
sunting
Syi'ah berpendapat bahwa Ali
adalah khalifah yang berhak
menggantikan Nabi Muhammad , dan
sudah ditunjuk oleh Beliau atas
perintah Allah di Ghadir Khum.
Syi'ah meninggikan kedudukan Ali
atas Sahabat Nabi yang lain, seperti
Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Syi'ah selalu menambahkan nama Ali
bin Abi Thalib dengan Alayhi Salam
(AS) atau semoga Allah melimpahkan
keselamatan dan kesejahteraan.
Ahlussunnah
Ahlussunnah memandang Ali bin
Abi thalib sebagai salah seorang
sahabat rasulullah yang terpandang.
Hubungan kekerabatan Ali dan
rasulullah sangat dekat sehingga ia
merupakan seorang ahlul bait dari
nabi shallallahu'alaihi wa sallam.
Ahlussunnah juga mengakui Ali bin
abi thalib sebagai salah seorang
khulafaurrasyidin (khalifah yang
mendapat petunjuk).
Sunni menambahkan nama Ali
dengan Radhiyallahu Anhu (RA) atau
semoga Allah ridha padanya .
Tambahan ini sama sebagaimana
yang juga diberikan kepada Sahabat
Nabi yang lain.
Sufi
Sufi menambahkan nama Ali bin Abi
Thalib dengan Karramallahu Wajhah
(KW) atau semoga Allah me-mulia-
kan wajahnya. Doa kaum Sufi ini
sangat unik, berdasar riwayat bahwa
beliau tidak suka menggunakan
wajahnya untuk melihat hal-hal
buruk bahkan yang kurang sopan
sekalipun. Dibuktikan dalam
sebagian riwayat bahwa beliau tidak
suka memandang ke bawah bila
sedang berhubungan intim dengan
istri. Sedangkan riwayat-riwayat lain
menyebutkan dalam banyak
pertempuran (duel-tanding), bila
pakaian musuh terbuka bagian
bawah terkena sobekan pedang
beliau, maka Ali enggan meneruskan
duel hingga musuhnya lebih dulu
memperbaiki pakaiannya.
Ali bin Abi Thalib dianggap oleh
kaum Sufi sebagai Imam dalam ilmu
al-hikmah (divine wisdom) dan
futuwwah (spiritual warriorship).
Dari beliau bermunculan cabang-
cabang tarekat (thoriqoh ) atau
spiritual-brotherhood . Hampir
seluruh pendiri tarekat Sufi, adalah
keturunan beliau sesuai dengan
catatan nasab yang resmi mereka
miliki. Seperti pada tarekat
Qadiriyah dengan pendirinya Syekh
Abdul Qadir Jaelani , yang merupakan
keturunan langsung dari Ali melalui
anaknya Hasan bin Ali seperti yang
tercantum dalam kitab manaqib
Syekh Abdul Qadir Jilani (karya Syekh
Ja'far Barzanji) dan banyak kitab-
kitab lainnya.
Riwayat Hidup
Kelahiran & Kehidupan Keluarga
Kelahiran
Ali dilahirkan di Mekkah, daerah
Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13
Rajab. Menurut sejarawan, Ali
dilahirkan 10 tahun sebelum
dimulainya kenabian Muhammad,
sekitar tahun 599 Masehi atau
600 (perkiraan). Muslim Syi'ah
percaya bahwa Ali dilahirkan di
dalam Ka'bah. Usia Ali terhadap
Nabi Muhammad masih
diperselisihkan hingga kini, sebagian
riwayat menyebut berbeda 25 tahun,
ada yang berbeda 27 tahun, ada
yang 30 tahun bahkan 32 tahun.
Beliau bernama asli Haydar bin Abu
Thalib, paman Nabi Muhammad
SAW. Haydar yang berarti Singa
adalah harapan keluarga Abu Thalib
untuk mempunyai penerus yang
dapat menjadi tokoh pemberani dan
disegani di antara kalangan Quraisy
Mekkah.
Setelah mengetahui sepupu yang
baru lahir diberi nama Haydar ,
[rujukan? ] Nabi SAW memanggil
dengan Ali yang berarti Tinggi
(derajat di sisi Allah).
Kehidupan Awal
Ali dilahirkan dari ibu yang bernama
Fatimah binti Asad , dimana Asad
merupakan anak dari Hasyim ,
sehingga menjadikan Ali, merupakan
keturunan Hasyim dari sisi bapak
dan ibu.
Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak
memberi hiburan bagi Nabi SAW
karena beliau tidak punya anak laki-
laki. Uzur dan faqir nya keluarga
Abu Thalib memberi kesempatan
bagi Nabi SAW bersama istri beliau
Khadijah untuk mengasuh Ali dan
menjadikannya putra angkat. Hal ini
sekaligus untuk membalas jasa
kepada Abu Thalib yang telah
mengasuh Nabi sejak beliau kecil
hingga dewasa, sehingga sedari kecil
Ali sudah bersama dengan
Muhammad.
Dalam biografi asing (Barat),
hubungan Ali kepada Nabi
Muhammad SAW dilukiskan seperti
Yohanes Pembaptis ( Nabi Yahya)
kepada Yesus (Nabi Isa ). Dalam
riwayat-riwayat Syi'ah dan sebagian
riwayat Sunni , hubungan tersebut
dilukiskan seperti Nabi Harun
kepada Nabi Musa .
Masa Remaja
Ketika Nabi Muhammad SAW
menerima wahyu, riwayat-riwayat
lama seperti Ibnu Ishaq
menjelaskan Ali adalah lelaki
pertama yang mempercayai wahyu
tersebut atau orang ke 2 yang
percaya setelah Khadijah istri Nabi
sendiri. Pada titik ini Ali berusia
sekitar 10 tahun.
Pada usia remaja setelah wahyu
turun, Ali banyak belajar langsung
dari Nabi SAW karena sebagai anak
asuh, berkesempatan selalu dekat
dengan Nabi hal ini berkelanjutan
hingga beliau menjadi menantu
Nabi. Hal inilah yang menjadi bukti
bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada
pelajaran-pelajaran tertentu masalah
ruhani (spirituality dalam bahasa
Inggris atau kaum Salaf lebih suka
menyebut istilah 'Ihsan') atau yang
kemudian dikenal dengan istilah
Tasawuf yang diajarkan Nabi khusus
kepada beliau tapi tidak kepada
Murid-murid atau Sahabat-sahabat
yang lain.
Karena bila ilmu Syari'ah atau
hukum-hukum agama Islam baik
yang mengatur ibadah maupun
kemasyarakatan semua yang diterima
Nabi harus disampaikan dan
diajarkan kepada umatnya,
sementara masalah ruhani hanya
bisa diberikan kepada orang-orang
tertentu dengan kapasitas masing-
masing.
Didikan langsung dari Nabi kepada
Ali dalam semua aspek ilmu Islam
baik aspek zhahir (exterior) atau
syariah dan bathin (interior) atau
tasawuf menggembleng Ali menjadi
seorang pemuda yang sangat cerdas,
berani dan bijak.
Kehidupan di Mekkah sampai Hijrah
ke Madinah
Ali bersedia tidur di kamar Nabi
untuk mengelabui orang-orang
Quraisy yang akan menggagalkan
hijrah Nabi. Beliau tidur
menampakkan kesan Nabi yang tidur
sehingga masuk waktu menjelang
pagi mereka mengetahui Ali yang
tidur, sudah tertinggal satu malam
perjalanan oleh Nabi yang telah
meloloskan diri ke Madinah bersama
Abu Bakar.
Kehidupan di Madinah
Perkawinan
Setelah masa hijrah dan tinggal di
Madinah , Ali dinikahkan Nabi
dengan putri kesayangannya Fatimah
az-Zahra . Nabi menimbang Ali yang
paling tepat dalam banyak hal
seperti Nasab keluarga yang se-
rumpun (Bani Hasyim ), yang paling
dulu mempercayai ke-nabi-an
Muhammad (setelah Khadijah ), yang
selalu belajar di bawah Nabi dan
banyak hal lain.
Julukan
Ketika Muhammad mencari Ali
menantunya, ternyata Ali sedang
tidur. Bagian atas pakaiannya
tersingkap dan debu mengotori
punggungnya. Melihat itu
Muhammad pun lalu duduk dan
membersihkan punggung Ali sambil
berkata, "Duduklah wahai Abu Turab,
duduklah." Turab yang berarti debu
atau tanah dalam bahasa Arab.
Julukan tersebut adalah julukan
yang paling disukai oleh Ali.
Pertempuran yang diikuti pada
masa Nabi saw
Perang Badar
Beberapa saat setelah menikah,
pecahlah perang Badar, perang
pertama dalam sejarah Islam. Di sini
Ali betul-betul menjadi pahlawan
disamping Hamzah , paman Nabi.
Banyaknya Quraisy Mekkah yang
tewas di tangan Ali masih dalam
perselisihan, tapi semua sepakat
beliau menjadi bintang lapangan
dalam usia yang masih sangat muda
sekitar 25 tahun.
Perang Khandaq
Perang Khandaq juga menjadi saksi
nyata keberanian Ali bin Abi Thalib
ketika memerangi Amar bin Abdi
Wud . Dengan satu tebasan
pedangnya yang bernama dzulfikar,
Amar bin Abdi Wud terbelah
menjadi dua bagian.
Perang Khaibar
Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang
memuat perjanjian perdamaian
antara kaum Muslimin dengan
Yahudi, dikemudian hari Yahudi
mengkhianati perjanjian tersebut
sehingga pecah perang melawan
Yahudi yang bertahan di Benteng
Khaibar yang sangat kokoh, biasa
disebut dengan perang Khaibar. Di
saat para sahabat tidak mampu
membuka benteng Khaibar, Nabi saw
bersabda:
"Besok, akan aku serahkan
bendera kepada seseorang yang
tidak akan melarikan diri, dia
akan menyerang berulang-ulang
dan Allah akan mengaruniakan
kemenangan baginya. Allah dan
Rasul-Nya mencintainya dan dia
mencintai Allah dan Rasul-Nya".
Maka, seluruh sahabat pun
berangan-angan untuk mendapatkan
kemuliaan tersebut. Namun, temyata
Ali bin Abi Thalib yang mendapat
kehormatan itu serta mampu
menghancurkan benteng Khaibar
dan berhasil membunuh seorang
prajurit musuh yang berani bernama
Marhab lalu menebasnya dengan
sekali pukul hingga terbelah menjadi
dua bagian.
Peperangan lainnya
Hampir semua peperangan beliau
ikuti kecuali perang Tabuk karena
mewakili nabi Muhammad untuk
menjaga kota Madinah .
Setelah Nabi wafat
Sampai disini hampir semua pihak
sepakat tentang riwayat Ali bin Abi
Thalib, perbedaan pendapat mulai
tampak ketika Nabi Muhammad
wafat. Syi'ah berpendapat sudah ada
wasiat (berdasar riwayat Ghadir
Khum) bahwa Ali harus menjadi
Khalifah bila Nabi SAW wafat. Tetapi
Sunni tidak sependapat, sehingga
pada saat Ali dan Fatimah masih
berada dalam suasana duka orang-
orang Quraisy bersepakat untuk
membaiat Abu Bakar.
Menurut riwayat dari Al-Ya'qubi
dalam kitab Tarikh-nya Jilid II
Menyebutkan suatu peristiwa
sebagai berikut. Dalam perjalan
pulang ke Madinah seusai
menunaikan ibadah haji ( Hijjatul-
Wada'),malam hari Rasulullah saw
bersama rombongan tiba di suatu
tempat dekat Jifrah yang dikenal
denagan nama "GHADIR KHUM." Hari
itu adalah hari ke-18 bulan
Dzulhijah. Ia keluar dari kemahnya
kemudia berkhutbah di depan
jamaah sambil memegang tangan
Imam Ali Bin Abi Tholib r.a.Dalam
khutbahnya itu antara lain beliau
berkata : "Barang siapa menanggap
aku ini pemimpinnya, maka Ali
adalah pemimpinnya.Ya Allah,
pimpinlah orang yang mengakui
kepemimpinannya dan musuhilah
orang yang memusuhinya"
Pengangkatan Abu Bakar sebagai
Khalifah tentu tidak disetujui
keluarga Nabi Ahlul Baitdan
pengikutnya. Beberapa riwayat
berbeda pendapat waktu pem-bai'at-
an Ali bin Abi Thalib terhadap Abu
Bakar sebagai Khalifah pengganti
Rasulullah . Ada yang meriwayatkan
setelah Nabi dimakamkan, ada yang
beberapa hari setelah itu, riwayat
yang terbanyak adalah Ali mem-
bai'at Abu Bakar setelah Fatimah
meninggal, yaitu enam bulan setelah
meninggalnya Rasulullah demi
mencegah perpecahan dalam ummat
Ada yang menyatakan bahwa Ali
belum pantas untuk menyandang
jabatan Khalifah karena umurnya
yang masih muda, ada pula yang
menyatakan bahwa kekhalifahan dan
kenabian sebaiknya tidak berada di
tangan Bani Hasyim .
Sebagai khalifah
Peristiwa pembunuhan terhadap
Khalifah Utsman bin Affan
mengakibatkan kegentingan di
seluruh dunia Islam yang waktu itu
sudah membentang sampai ke Persia
dan Afrika Utara. Pemberontak yang
waktu itu menguasai Madinah tidak
mempunyai pilihan lain selain Ali
bin Abi Thalib sebagai khalifah,
waktu itu Ali berusaha menolak,
tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah
bin Ubaidillah memaksa beliau,
sehingga akhirnya Ali menerima
bai'at mereka. Menjadikan Ali satu-
satunya Khalifah yang dibai'at secara
massal, karena khalifah sebelumnya
dipilih melalui cara yang berbeda-
beda.
Sebagai Khalifah ke-4 yang
memerintah selama sekitar 5 tahun.
Masa pemerintahannya mewarisi
kekacauan yang terjadi saat masa
pemerintah Khalifah sebelumnya,
Utsman bin Affan . Untuk pertama
kalinya perang saudara antara umat
Muslim terjadi saat masa
pemerintahannya, Pertempuran
Basra. 20.000 pasukan pimpinan Ali
melawan 30.000 pasukan pimpinan
Zubair bin Awwam, Talhah bin
Ubaidillah , dan Ummul mu'minin
Aisyah binti Abu Bakar, janda
Rasulullah . Perang tersebut
dimenangkan oleh pihak Ali.
Peristiwa pembunuhan Khalifah
Utsman bin Affan yang menurut
berbagai kalangan waktu itu kurang
dapat diselesaikan karena fitnah
yang sudah terlanjur meluas dan
sudah diisyaratkan (akan terjadi)
oleh Nabi Muhammad SAW ketika
beliau masih hidup, dan diperparah
oleh hasutan-hasutan para
pembangkang yang ada sejak zaman
Utsman bin Affan , menyebabkan
perpecahan di kalangan kaum
muslim sehingga menyebabkan
perang tersebut. Tidak hanya selesai
di situ, konflik berkepanjangan
terjadi hingga akhir
pemerintahannya. Pertempuran
Shiffin yang melemahkan
kekhalifannya juga berawal dari
masalah tersebut.
Ali bin Abi Thalib , seseorang yang
memiliki kecakapan dalam bidang
militer dan strategi perang,
mengalami kesulitan dalam
administrasi negara karena
kekacauan luar biasa yang
ditinggalkan pemerintahan
sebelumya. Ia meninggal di usia 63
tahun karena pembunuhan oleh
Abdrrahman bin Muljam, seseorang
yang berasal dari golongan Khawarij
(pembangkang) saat mengimami
salat subuh di masjid Kufah, pada
tanggal 19 Ramadhan , dan Ali
menghembuskan napas terakhirnya
pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40
Hijriyah. Ali dikuburkan secara
rahasia di Najaf , bahkan ada
beberapa riwayat yang menyatakan
bahwa ia dikubur di tempat lain.
Keturunan
Artikel utama untuk bagian ini
adalah: Keturunan Ali bin Abi Thalib
Ali memiliki delapan istri setelah
meninggalnya Fatimah az-Zahra [1]
dan memiliki keseluruhan 36 orang
anak. Dua anak laki-lakinya yang
terkenal, lahir dari anak Nabi
Muhammad, Fatimah , adalah Hasan
dan Husain .
Keturunan Ali melalui Fatimah
dikenal dengan Syarif atau Sayyid ,
yang merupakan gelar kehormatan
dalam Bahasa Arab , Syarif berarti
bangsawan dan Sayyed berarti tuan .
Sebagai keturunan langsung dari
Muhammad, mereka dihormati oleh
Sunni dan Syi'ah.
Menurut riwayat, Ali bin Abi Thalib
memiliki 36 orang anak yang terdiri
dari 18 anak laki-laki dan 18 anak
perempuan. Sampai saat ini
keturunan itu masih tersebar, dan
dikenal dengan Alawiyin atau
Alawiyah. Sampai saat ini keturunan
Ali bin Abi Thalib kerap digelari
Sayyid.
Anak laki-laki
Anak perempuan
Hasan al-Mujtaba
Zainab al-Kubra
Husain asy-Syahid
Zainab al-Sughra
Muhammad bin al-Hanafiah
Ummu Kaltsum
Abbas al-Akbar (dijuluki Abu Fadl )
Ramlah al-Kubra
Abdullah al-Akbar
Ramlah al-Sughra
Ja'far al-Akbar
Nafisah
Utsman al-Akbar
Ruqaiyah al-Sughra
Muhammad al-Ashghar
Ruqaiyah al-Kubra
Abdullah al-Ashghar
Maimunah
Abdullah (yang dijuluki Abu Ali)
Zainab al-Sughra
‘Aun
Ummu Hani
Yahya
Fathimah al-Sughra
Muhammad al-Ausath
Umamah
Utsman al-Ashghar
Khadijah al-Sughra
Abbas al-Ashghar
Ummu al-Hasan
Ja'far al-Ashghar
Ummu Salamah
Umar al-Ashghar
Hamamah
Umar al-Akbar
Ummu Kiram

Sumber : wikipedia

Read More

Ali bin Abi Thalib

Khalifah Islam Ke-4Ali
Khalifah Ar-Rasyidin
Lahir
Ali bin Abi Thalib
599
Mekkah, Jazirah Arab (Sekarang
Saudi Arabia)
Meninggal
28 Januari 661
Tempat peristirahatan
Najaf , Irak
Dikenal karena
Sahabat Nabi Muhammad
Agama
Islam
‘Alī bin Abī Thālib (Arab : ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ
ﻃﺎﻟﺐ , Persia : ﻋﻠﯽ ﭘﺴﺮ ﺍﺑﻮ ﻃﺎﻟﺐ ) (lahir
sekitar 13 Rajab 23 Pra Hijriah/ 599 –
wafat 21 Ramadan 40 Hijriah/ 661 ),
adalah salah seorang pemeluk Islam
pertama dan juga keluarga dari Nabi
Muhammad. Menurut Islam Sunni, ia
adalah Khalifah terakhir dari
Khulafaur Rasyidin. Sedangkan
Syi'ah berpendapat bahwa ia adalah
Imam sekaligus Khalifah pertama
yang dipilih oleh Rasulullah
Muhammad SAW. Uniknya meskipun
Sunni tidak mengakui konsep
Imamah mereka setuju memanggil
Ali dengan sebutan Imam, sehingga
Ali menjadi satu-satunya Khalifah
yang sekaligus juga Imam. Ali adalah
sepupu dari Muhammad, dan setelah
menikah dengan Fatimah az-Zahra , ia
menjadi menantu Muhammad .
Perbedaan pandangan mengenai
pribadi Ali bin Abi Thalib
Syi'ah
Bagian dari artikel tentang
Imam Syi'ah
Dua Belas Imam
Ali bin Abi Thalib
Hasan al-Mujtaba
Husain asy-Syahid
Ali Zainal Abidin
Muhammad al-Baqir
Ja'far ash-Shadiq
Musa al-Kadzim
Ali ar-Ridha
Muhammad al-Jawad
Ali al-Hadi
Hasan al-Askari
Muhammad al-Mahdi
lihat bicara
sunting
Syi'ah berpendapat bahwa Ali
adalah khalifah yang berhak
menggantikan Nabi Muhammad , dan
sudah ditunjuk oleh Beliau atas
perintah Allah di Ghadir Khum.
Syi'ah meninggikan kedudukan Ali
atas Sahabat Nabi yang lain, seperti
Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Syi'ah selalu menambahkan nama Ali
bin Abi Thalib dengan Alayhi Salam
(AS) atau semoga Allah melimpahkan
keselamatan dan kesejahteraan.
Ahlussunnah
Ahlussunnah memandang Ali bin
Abi thalib sebagai salah seorang
sahabat rasulullah yang terpandang.
Hubungan kekerabatan Ali dan
rasulullah sangat dekat sehingga ia
merupakan seorang ahlul bait dari
nabi shallallahu'alaihi wa sallam.
Ahlussunnah juga mengakui Ali bin
abi thalib sebagai salah seorang
khulafaurrasyidin (khalifah yang
mendapat petunjuk).
Sunni menambahkan nama Ali
dengan Radhiyallahu Anhu (RA) atau
semoga Allah ridha padanya .
Tambahan ini sama sebagaimana
yang juga diberikan kepada Sahabat
Nabi yang lain.
Sufi
Sufi menambahkan nama Ali bin Abi
Thalib dengan Karramallahu Wajhah
(KW) atau semoga Allah me-mulia-
kan wajahnya. Doa kaum Sufi ini
sangat unik, berdasar riwayat bahwa
beliau tidak suka menggunakan
wajahnya untuk melihat hal-hal
buruk bahkan yang kurang sopan
sekalipun. Dibuktikan dalam
sebagian riwayat bahwa beliau tidak
suka memandang ke bawah bila
sedang berhubungan intim dengan
istri. Sedangkan riwayat-riwayat lain
menyebutkan dalam banyak
pertempuran (duel-tanding), bila
pakaian musuh terbuka bagian
bawah terkena sobekan pedang
beliau, maka Ali enggan meneruskan
duel hingga musuhnya lebih dulu
memperbaiki pakaiannya.
Ali bin Abi Thalib dianggap oleh
kaum Sufi sebagai Imam dalam ilmu
al-hikmah (divine wisdom) dan
futuwwah (spiritual warriorship).
Dari beliau bermunculan cabang-
cabang tarekat (thoriqoh ) atau
spiritual-brotherhood . Hampir
seluruh pendiri tarekat Sufi, adalah
keturunan beliau sesuai dengan
catatan nasab yang resmi mereka
miliki. Seperti pada tarekat
Qadiriyah dengan pendirinya Syekh
Abdul Qadir Jaelani , yang merupakan
keturunan langsung dari Ali melalui
anaknya Hasan bin Ali seperti yang
tercantum dalam kitab manaqib
Syekh Abdul Qadir Jilani (karya Syekh
Ja'far Barzanji) dan banyak kitab-
kitab lainnya.
Riwayat Hidup
Kelahiran & Kehidupan Keluarga
Kelahiran
Ali dilahirkan di Mekkah, daerah
Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13
Rajab. Menurut sejarawan, Ali
dilahirkan 10 tahun sebelum
dimulainya kenabian Muhammad,
sekitar tahun 599 Masehi atau
600 (perkiraan). Muslim Syi'ah
percaya bahwa Ali dilahirkan di
dalam Ka'bah. Usia Ali terhadap
Nabi Muhammad masih
diperselisihkan hingga kini, sebagian
riwayat menyebut berbeda 25 tahun,
ada yang berbeda 27 tahun, ada
yang 30 tahun bahkan 32 tahun.
Beliau bernama asli Haydar bin Abu
Thalib, paman Nabi Muhammad
SAW. Haydar yang berarti Singa
adalah harapan keluarga Abu Thalib
untuk mempunyai penerus yang
dapat menjadi tokoh pemberani dan
disegani di antara kalangan Quraisy
Mekkah.
Setelah mengetahui sepupu yang
baru lahir diberi nama Haydar ,
[rujukan? ] Nabi SAW memanggil
dengan Ali yang berarti Tinggi
(derajat di sisi Allah).
Kehidupan Awal
Ali dilahirkan dari ibu yang bernama
Fatimah binti Asad , dimana Asad
merupakan anak dari Hasyim ,
sehingga menjadikan Ali, merupakan
keturunan Hasyim dari sisi bapak
dan ibu.
Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak
memberi hiburan bagi Nabi SAW
karena beliau tidak punya anak laki-
laki. Uzur dan faqir nya keluarga
Abu Thalib memberi kesempatan
bagi Nabi SAW bersama istri beliau
Khadijah untuk mengasuh Ali dan
menjadikannya putra angkat. Hal ini
sekaligus untuk membalas jasa
kepada Abu Thalib yang telah
mengasuh Nabi sejak beliau kecil
hingga dewasa, sehingga sedari kecil
Ali sudah bersama dengan
Muhammad.
Dalam biografi asing (Barat),
hubungan Ali kepada Nabi
Muhammad SAW dilukiskan seperti
Yohanes Pembaptis ( Nabi Yahya)
kepada Yesus (Nabi Isa ). Dalam
riwayat-riwayat Syi'ah dan sebagian
riwayat Sunni , hubungan tersebut
dilukiskan seperti Nabi Harun
kepada Nabi Musa .
Masa Remaja
Ketika Nabi Muhammad SAW
menerima wahyu, riwayat-riwayat
lama seperti Ibnu Ishaq
menjelaskan Ali adalah lelaki
pertama yang mempercayai wahyu
tersebut atau orang ke 2 yang
percaya setelah Khadijah istri Nabi
sendiri. Pada titik ini Ali berusia
sekitar 10 tahun.
Pada usia remaja setelah wahyu
turun, Ali banyak belajar langsung
dari Nabi SAW karena sebagai anak
asuh, berkesempatan selalu dekat
dengan Nabi hal ini berkelanjutan
hingga beliau menjadi menantu
Nabi. Hal inilah yang menjadi bukti
bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada
pelajaran-pelajaran tertentu masalah
ruhani (spirituality dalam bahasa
Inggris atau kaum Salaf lebih suka
menyebut istilah 'Ihsan') atau yang
kemudian dikenal dengan istilah
Tasawuf yang diajarkan Nabi khusus
kepada beliau tapi tidak kepada
Murid-murid atau Sahabat-sahabat
yang lain.
Karena bila ilmu Syari'ah atau
hukum-hukum agama Islam baik
yang mengatur ibadah maupun
kemasyarakatan semua yang diterima
Nabi harus disampaikan dan
diajarkan kepada umatnya,
sementara masalah ruhani hanya
bisa diberikan kepada orang-orang
tertentu dengan kapasitas masing-
masing.
Didikan langsung dari Nabi kepada
Ali dalam semua aspek ilmu Islam
baik aspek zhahir (exterior) atau
syariah dan bathin (interior) atau
tasawuf menggembleng Ali menjadi
seorang pemuda yang sangat cerdas,
berani dan bijak.
Kehidupan di Mekkah sampai Hijrah
ke Madinah
Ali bersedia tidur di kamar Nabi
untuk mengelabui orang-orang
Quraisy yang akan menggagalkan
hijrah Nabi. Beliau tidur
menampakkan kesan Nabi yang tidur
sehingga masuk waktu menjelang
pagi mereka mengetahui Ali yang
tidur, sudah tertinggal satu malam
perjalanan oleh Nabi yang telah
meloloskan diri ke Madinah bersama
Abu Bakar.
Kehidupan di Madinah
Perkawinan
Setelah masa hijrah dan tinggal di
Madinah , Ali dinikahkan Nabi
dengan putri kesayangannya Fatimah
az-Zahra . Nabi menimbang Ali yang
paling tepat dalam banyak hal
seperti Nasab keluarga yang se-
rumpun (Bani Hasyim ), yang paling
dulu mempercayai ke-nabi-an
Muhammad (setelah Khadijah ), yang
selalu belajar di bawah Nabi dan
banyak hal lain.
Julukan
Ketika Muhammad mencari Ali
menantunya, ternyata Ali sedang
tidur. Bagian atas pakaiannya
tersingkap dan debu mengotori
punggungnya. Melihat itu
Muhammad pun lalu duduk dan
membersihkan punggung Ali sambil
berkata, "Duduklah wahai Abu Turab,
duduklah." Turab yang berarti debu
atau tanah dalam bahasa Arab.
Julukan tersebut adalah julukan
yang paling disukai oleh Ali.
Pertempuran yang diikuti pada
masa Nabi saw
Perang Badar
Beberapa saat setelah menikah,
pecahlah perang Badar, perang
pertama dalam sejarah Islam. Di sini
Ali betul-betul menjadi pahlawan
disamping Hamzah , paman Nabi.
Banyaknya Quraisy Mekkah yang
tewas di tangan Ali masih dalam
perselisihan, tapi semua sepakat
beliau menjadi bintang lapangan
dalam usia yang masih sangat muda
sekitar 25 tahun.
Perang Khandaq
Perang Khandaq juga menjadi saksi
nyata keberanian Ali bin Abi Thalib
ketika memerangi Amar bin Abdi
Wud . Dengan satu tebasan
pedangnya yang bernama dzulfikar,
Amar bin Abdi Wud terbelah
menjadi dua bagian.
Perang Khaibar
Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang
memuat perjanjian perdamaian
antara kaum Muslimin dengan
Yahudi, dikemudian hari Yahudi
mengkhianati perjanjian tersebut
sehingga pecah perang melawan
Yahudi yang bertahan di Benteng
Khaibar yang sangat kokoh, biasa
disebut dengan perang Khaibar. Di
saat para sahabat tidak mampu
membuka benteng Khaibar, Nabi saw
bersabda:
"Besok, akan aku serahkan
bendera kepada seseorang yang
tidak akan melarikan diri, dia
akan menyerang berulang-ulang
dan Allah akan mengaruniakan
kemenangan baginya. Allah dan
Rasul-Nya mencintainya dan dia
mencintai Allah dan Rasul-Nya".
Maka, seluruh sahabat pun
berangan-angan untuk mendapatkan
kemuliaan tersebut. Namun, temyata
Ali bin Abi Thalib yang mendapat
kehormatan itu serta mampu
menghancurkan benteng Khaibar
dan berhasil membunuh seorang
prajurit musuh yang berani bernama
Marhab lalu menebasnya dengan
sekali pukul hingga terbelah menjadi
dua bagian.
Peperangan lainnya
Hampir semua peperangan beliau
ikuti kecuali perang Tabuk karena
mewakili nabi Muhammad untuk
menjaga kota Madinah .
Setelah Nabi wafat
Sampai disini hampir semua pihak
sepakat tentang riwayat Ali bin Abi
Thalib, perbedaan pendapat mulai
tampak ketika Nabi Muhammad
wafat. Syi'ah berpendapat sudah ada
wasiat (berdasar riwayat Ghadir
Khum) bahwa Ali harus menjadi
Khalifah bila Nabi SAW wafat. Tetapi
Sunni tidak sependapat, sehingga
pada saat Ali dan Fatimah masih
berada dalam suasana duka orang-
orang Quraisy bersepakat untuk
membaiat Abu Bakar.
Menurut riwayat dari Al-Ya'qubi
dalam kitab Tarikh-nya Jilid II
Menyebutkan suatu peristiwa
sebagai berikut. Dalam perjalan
pulang ke Madinah seusai
menunaikan ibadah haji ( Hijjatul-
Wada'),malam hari Rasulullah saw
bersama rombongan tiba di suatu
tempat dekat Jifrah yang dikenal
denagan nama "GHADIR KHUM." Hari
itu adalah hari ke-18 bulan
Dzulhijah. Ia keluar dari kemahnya
kemudia berkhutbah di depan
jamaah sambil memegang tangan
Imam Ali Bin Abi Tholib r.a.Dalam
khutbahnya itu antara lain beliau
berkata : "Barang siapa menanggap
aku ini pemimpinnya, maka Ali
adalah pemimpinnya.Ya Allah,
pimpinlah orang yang mengakui
kepemimpinannya dan musuhilah
orang yang memusuhinya"
Pengangkatan Abu Bakar sebagai
Khalifah tentu tidak disetujui
keluarga Nabi Ahlul Baitdan
pengikutnya. Beberapa riwayat
berbeda pendapat waktu pem-bai'at-
an Ali bin Abi Thalib terhadap Abu
Bakar sebagai Khalifah pengganti
Rasulullah . Ada yang meriwayatkan
setelah Nabi dimakamkan, ada yang
beberapa hari setelah itu, riwayat
yang terbanyak adalah Ali mem-
bai'at Abu Bakar setelah Fatimah
meninggal, yaitu enam bulan setelah
meninggalnya Rasulullah demi
mencegah perpecahan dalam ummat
Ada yang menyatakan bahwa Ali
belum pantas untuk menyandang
jabatan Khalifah karena umurnya
yang masih muda, ada pula yang
menyatakan bahwa kekhalifahan dan
kenabian sebaiknya tidak berada di
tangan Bani Hasyim .
Sebagai khalifah
Peristiwa pembunuhan terhadap
Khalifah Utsman bin Affan
mengakibatkan kegentingan di
seluruh dunia Islam yang waktu itu
sudah membentang sampai ke Persia
dan Afrika Utara. Pemberontak yang
waktu itu menguasai Madinah tidak
mempunyai pilihan lain selain Ali
bin Abi Thalib sebagai khalifah,
waktu itu Ali berusaha menolak,
tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah
bin Ubaidillah memaksa beliau,
sehingga akhirnya Ali menerima
bai'at mereka. Menjadikan Ali satu-
satunya Khalifah yang dibai'at secara
massal, karena khalifah sebelumnya
dipilih melalui cara yang berbeda-
beda.
Sebagai Khalifah ke-4 yang
memerintah selama sekitar 5 tahun.
Masa pemerintahannya mewarisi
kekacauan yang terjadi saat masa
pemerintah Khalifah sebelumnya,
Utsman bin Affan . Untuk pertama
kalinya perang saudara antara umat
Muslim terjadi saat masa
pemerintahannya, Pertempuran
Basra. 20.000 pasukan pimpinan Ali
melawan 30.000 pasukan pimpinan
Zubair bin Awwam, Talhah bin
Ubaidillah , dan Ummul mu'minin
Aisyah binti Abu Bakar, janda
Rasulullah . Perang tersebut
dimenangkan oleh pihak Ali.
Peristiwa pembunuhan Khalifah
Utsman bin Affan yang menurut
berbagai kalangan waktu itu kurang
dapat diselesaikan karena fitnah
yang sudah terlanjur meluas dan
sudah diisyaratkan (akan terjadi)
oleh Nabi Muhammad SAW ketika
beliau masih hidup, dan diperparah
oleh hasutan-hasutan para
pembangkang yang ada sejak zaman
Utsman bin Affan , menyebabkan
perpecahan di kalangan kaum
muslim sehingga menyebabkan
perang tersebut. Tidak hanya selesai
di situ, konflik berkepanjangan
terjadi hingga akhir
pemerintahannya. Pertempuran
Shiffin yang melemahkan
kekhalifannya juga berawal dari
masalah tersebut.
Ali bin Abi Thalib , seseorang yang
memiliki kecakapan dalam bidang
militer dan strategi perang,
mengalami kesulitan dalam
administrasi negara karena
kekacauan luar biasa yang
ditinggalkan pemerintahan
sebelumya. Ia meninggal di usia 63
tahun karena pembunuhan oleh
Abdrrahman bin Muljam, seseorang
yang berasal dari golongan Khawarij
(pembangkang) saat mengimami
salat subuh di masjid Kufah, pada
tanggal 19 Ramadhan , dan Ali
menghembuskan napas terakhirnya
pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40
Hijriyah. Ali dikuburkan secara
rahasia di Najaf , bahkan ada
beberapa riwayat yang menyatakan
bahwa ia dikubur di tempat lain.
Keturunan
Artikel utama untuk bagian ini
adalah: Keturunan Ali bin Abi Thalib
Ali memiliki delapan istri setelah
meninggalnya Fatimah az-Zahra [1]
dan memiliki keseluruhan 36 orang
anak. Dua anak laki-lakinya yang
terkenal, lahir dari anak Nabi
Muhammad, Fatimah , adalah Hasan
dan Husain .
Keturunan Ali melalui Fatimah
dikenal dengan Syarif atau Sayyid ,
yang merupakan gelar kehormatan
dalam Bahasa Arab , Syarif berarti
bangsawan dan Sayyed berarti tuan .
Sebagai keturunan langsung dari
Muhammad, mereka dihormati oleh
Sunni dan Syi'ah.
Menurut riwayat, Ali bin Abi Thalib
memiliki 36 orang anak yang terdiri
dari 18 anak laki-laki dan 18 anak
perempuan. Sampai saat ini
keturunan itu masih tersebar, dan
dikenal dengan Alawiyin atau
Alawiyah. Sampai saat ini keturunan
Ali bin Abi Thalib kerap digelari
Sayyid.
Anak laki-laki
Anak perempuan
Hasan al-Mujtaba
Zainab al-Kubra
Husain asy-Syahid
Zainab al-Sughra
Muhammad bin al-Hanafiah
Ummu Kaltsum
Abbas al-Akbar (dijuluki Abu Fadl )
Ramlah al-Kubra
Abdullah al-Akbar
Ramlah al-Sughra
Ja'far al-Akbar
Nafisah
Utsman al-Akbar
Ruqaiyah al-Sughra
Muhammad al-Ashghar
Ruqaiyah al-Kubra
Abdullah al-Ashghar
Maimunah
Abdullah (yang dijuluki Abu Ali)
Zainab al-Sughra
‘Aun
Ummu Hani
Yahya
Fathimah al-Sughra
Muhammad al-Ausath
Umamah
Utsman al-Ashghar
Khadijah al-Sughra
Abbas al-Ashghar
Ummu al-Hasan
Ja'far al-Ashghar
Ummu Salamah
Umar al-Ashghar
Hamamah
Umar al-Akbar
Ummu Kiram

Sumber : wikipedia

Read More

Biografi Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu

Biografi Abu Bakar Ash Shiddiq
Radhiallahu’anhu
Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin
‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah
Nama
Nama beliau -menurut pendapat
yang shahih- adalah Abdullah bin
‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin
Ka’ab bin Sa’ad bin Taiym bin
Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al
Qurasyi At Taimi.
Kun-yah
Beliau memiliki kun-yah: Abu Bakar
Laqb (Julukan)
Beliau dijuluki dengan ‘Atiq (ﻋﺘﻴﻖ )
dan Ash Shiddiq (ﺍﻟﺼﺪِّﻳﻖ ).
Sebagian ulama berpendapat bahwa
alasan beliau dijuluki ‘Atiq karena
beliau tampan. Sebagian
mengatakan karena beliau berwajah
cerah. Pendapat lain mengatakan
karena beliau selalu terdepan dalam
kebaikan. Sebagian juga mengatakan
bahwa ibu beliau awalnya tidak
kunjung hamil, ketika ia hamil maka
ibunya berdoa,
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﻋﺘﻴﻘﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻮﺕ ، ﻓﻬﺒﻪ ﻟﻲ
“Ya Allah, jika anak ini engkau
bebaskan dari maut, maka
hadiahkanlah kepadaku”
Dan ada beberapa pendapat lain.
Sedangkan julukan Ash Shiddiq
didapatkan karena beliau
membenarkan kabar dari Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam dengan
kepercayaan yang sangat tinggi.
Sebagaimana ketika pagi hari setelah
malam Isra Mi’raj, orang-orang kafir
berkata kepadanya: ‘Teman kamu itu
(Muhammad) mengaku-ngaku telah
pergi ke Baitul Maqdis dalam
semalam’. Beliau menjawab:
ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻗﺎﻝ ﻓﻘﺪ ﺻﺪﻕ
“Jika ia berkata demikian, maka itu
benar”
Allah Ta’ala pun menyebut beliau
sebagai Ash Shiddiq:
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﺟَﺎﺀ ﺑِﺎﻟﺼِّﺪْﻕِ ﻭَﺻَﺪَّﻕَ ﺑِﻪِ ﺃُﻭْﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ
ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘُﻮﻥَ
“Dan orang yang membawa
kebenaran (Muhammad) dan yang
membenarkannya, mereka itulah
orang-orang yang bertakwa ” (QS. Az
Zumar: 33)
Tafsiran para ulama tentang ayat ini,
yang dimaksud ‘orang yang datang
membawa kebenaran’ ( ﺟَﺎﺀ ﺑِﺎﻟﺼِّﺪْﻕِ )
adalah Nabi Muhammad
Shallallahu’alaihi Wasallam dan yang
dimaksud ‘orang yang
membenarkannya’ ( ﺻَﺪَّﻕَ ﺑِﻪِ ) adalah
Abu Bakar Radhiallahu’anhu .
Beliau juga dijuluki Ash Shiddiq
karena beliau adalah lelaki pertama
yang membenarkan dan beriman
kepada Nabi Muhammad
Shallallahu’alaihi Wasallam. Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam telah
menamai beliau dengan Ash Shiddiq
sebagaimana diriwayatkan dalam
Shahih Bukhari:
ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺻﻌﺪ ﺃُﺣﺪﺍً ﻭﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ
ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﺜﻤﺎﻥ ، ﻓﺮﺟﻒ ﺑﻬﻢ ﻓﻘﺎﻝ : ﺍﺛﺒﺖ
ﺃُﺣﺪ ، ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻋﻠﻴﻚ ﻧﺒﻲ ﻭﺻﺪﻳﻖ ﻭﺷﻬﻴﺪﺍﻥ
“Dari Anas bin Malik
Radhiallahu’anhu bahwa Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam menaiki
gunung Uhud bersama Abu Bakar,
Umar dan ‘Utsman. Gunung Uhud
pun berguncang. Nabi lalu
bersabda: ‘Diamlah Uhud, di atasmu
ada Nabi, Ash Shiddiq (yaitu Abu
Bakr) dan dua orang Syuhada’ (‘Umar
dan ‘Utsman) ”
Kelahiran
Beliau dilahirkan 2 tahun 6 bulan
setelah tahun gajah.
Ciri Fisik
Beliau berkulit putih, bertubuh
kurus, berambut lebat, tampak kurus
wajahnya, dahinya muncul, dan ia
sering memakai hinaa dan katm .
Jasa-jasa
Jasanya yang paling besar adalah
masuknya ia ke dalam Islam
paling pertama.
Hijrahnya beliau bersama Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam
Ketegaran beliau ketika hari
wafatnya Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam
Sebelum terjadi hijrah, beliau
telah membebaskan 70 orang
yang disiksa orang kafir karena
alasan bertauhid kepada Allah.
Di antara mereka adalah Bilal
bin Rabbaah, ‘Amir bin Fahirah,
Zunairah, Al Hindiyyah dan
anaknya, budaknya Bani
Mu’ammal, Ummu ‘Ubais
Salah satu jasanya yang terbesar
ialah ketika menjadi khalifah
beliau memerangi orang-orang
murtad
Abu Bakar adalah lelaki yang lemah
lembut, namun dalam hal
memerangi orang yang murtad,
beliau memiliki pendirian yang
kokoh. Bahkan lebih tegas dan keras
daripada Umar bin Khattab yang
terkenal akan keras dan tegasnya
beliau dalam pembelaan terhadap
Allah. Imam Bukhari dan Muslim
meriwayatkan hadits Abu Hurairah
Radhiallahu’anhu :
ﻟﻤﺎ ﺗﻮﻓﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﻭﺍﺳﺘُﺨﻠﻒ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻭﻛﻔﺮ ﻣﻦ ﻛﻔﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺮﺏ
ﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻛﻴﻒ ﺗﻘﺎﺗﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻗﺪ
ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
ﺃﻣِﺮﺕ ﺃﻥ ﺃﻗﺎﺗﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺣﺘﻰ ﻳﻘﻮﻟﻮﺍ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ
ﺍﻟﻠﻪ ، ﻓﻤﻦ ﻗﺎﻝ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺼﻢ ﻣﻨﻲ
ﻣﺎﻟﻪ ﻭﻧﻔﺴﻪ ﺇﻻ ﺑﺤﻘﻪ ﻭﺣﺴﺎﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ؟
ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ : ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻷﻗﺎﺗﻠﻦ ﻣﻦ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ
ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﺣﻖ ﺍﻟﻤﺎﻝ ،
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻟﻮ ﻣﻨﻌﻮﻧﻲ ﻋﻨﺎﻗﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﺆﺩﻭﻧﻬﺎ ﺇﻟﻰ
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻘﺎﺗﻠﺘﻬﻢ
ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻌﻬﺎ . ﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﻓﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺇﻻ
ﺃﻥ ﺭﺃﻳﺖ ﺃﻥ ﻗﺪ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﺪﺭ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ
ﻟﻠﻘﺘﺎﻝ ﻓﻌﺮﻓﺖ ﺃﻧﻪ ﺍﻟﺤﻖ
“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam wafat, dan Abu Bakar
menggantikannya, banyak orang yang
kafir dari bangsa Arab. Umar
berkata: ‘Wahai Abu Bakar, bisa-
bisanya engkau memerangi manusia
padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda, aku diperintah
untuk memerangi manusia sampai
mereka mengucapkan Laa ilaaha
illallah, barangsiapa yang
mengucapkannya telah haram darah
dan jiwanya, kecuali dengan hak
(jalan yang benar). Adapun hisabnya
diserahkan kepada Allah?’ Abu Bakar
berkata: ‘Demi Allah akan kuperangi
orang yang membedakan antara
shalat dengan zakat. Karena zakat
adalah hak Allah atas harta. Demi
Allah jika ada orang yang enggan
membayar zakat di masaku, padahal
mereka menunaikannya di masa
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam, akan ku perangi dia’.
Umar berkata: ‘Demi Allah, setelah
itu tidaklah aku melihat kecuali
Allah telah melapangkan dadanya
untuk memerangi orang-orang
tersebut, dan aku yakin ia di atas
kebenaran ‘”
Begitu tegas dan kerasnya sikap
beliau sampai-sampai para ulama
berkata:
ﻧﺼﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺑﺄﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺮﺩّﺓ ،
ﻭﺑﺄﺣﻤﺪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ
“Allah menolong Islam melalui Abu
Bakar di hari ketika banyak orang
murtad, dan melalui Ahmad (bin
Hambal) di hari ketika terjadi fitnah
(khalqul Qur’an )”
Abu Bakar pun memerangi orang-
orang yang murtad dan orang-orang
yang enggan membayar zakat ketika
itu
Musailamah Al Kadzab dibunuh
di masa pemerintahan beliau
Beliau mengerahkan pasukan
untuk menaklukan Syam,
sebagaimana keinginan
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam. Dan akhirnya Syam
pun di taklukan, demikian juga
Iraq.
Di masa pemerintahan beliau, Al
Qur’an dikumpulkan. Beliau
memerintahkan Zaid bin Tsabit
untuk mengumpulkannya.
Abu Bakar adalah orang yang
bijaksana. Ketika ia tidak ridha
dengan dilepaskannya Khalid bin
Walid, ia berkata:
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﺃﺷﻴﻢ ﺳﻴﻔﺎ ﺳﻠﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻋﺪﻭﻩ
ﺣﺘﻰ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﻮ ﻳﺸﻴﻤﻪ
“Demi Allah, aku tidak akan
menghunus pedang yang Allah
tujukan kepada musuhnya sampai
Allah yang menghunusnya ” (HR.
Ahmad dan lainnya)
Ketika masa pemerintahan beliau,
terjadi peperangan. Beliau pun
bertekad untuk pergi sendiri
memimpin perang, namun Ali bin
Abi Thalib memegang tali kekangnya
dan berkata: ‘Mau kemana engkau
wahai khalifah? Akan kukatakan
kepadamu perkataan Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam ketika
perang Uhud:
ﺷِـﻢْ ﺳﻴﻔﻚ ﻭﻻ ﺗﻔﺠﻌﻨﺎ ﺑﻨﻔﺴﻚ . ﻭﺍﺭﺟﻊ
ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ، ﻓﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﺌﻦ ﻓُﺠﻌﻨﺎ ﺑﻚ ﻻ
ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻺﺳﻼﻡ ﻧﻈﺎﻡ ﺃﺑﺪﺍ
‘Simpanlah pedangmu dan
janganlah bersedih atas keadaan
kami. Kembalilah ke Madinah. Demi
Allah, jika keadaan kami
membuatmu sedih Islam tidak akan
tegak selamanya ‘. Lalu Abu Bakar
Radhiallahu’anhu pun kembali dan
mengutus pasukan.
Beliau juga sangat mengetahui
nasab-nasab bangsa arab
Keutamaan
Tidak ada lelaki yang memiliki
keutaman sebanyak keutamaan Abu
Bakar Radhiallahu’anhu
1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah
manusia terbaik setelah Nabi
Muhammad Shallallahu’alaihi
Wasallam dari golongan umat
beliau
Ibnu ‘Umar Radhiallahu’anhu
berkata:
ﻛﻨﺎ ﻧﺨﻴّﺮ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺯﻣﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻓﻨﺨﻴّﺮ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ، ﺛﻢ ﻋﻤﺮ
ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ، ﺛﻢ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﻔﺎﻥ ﺭﺿﻲ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ
“Kami pernah memilih orang terbaik
di masa Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam. Kami pun memilih Abu
Bakar, setelah itu Umar bin Khattab,
lalu ‘Utsman bin Affan
Radhiallahu’anhu ” (HR. Bukhari)
Dari Abu Darda Radhiallahu’anhu , ia
berkata:
ﻛﻨﺖ ﺟﺎﻟﺴﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫ ﺃﻗﺒﻞ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺁﺧﺬﺍ ﺑﻄﺮﻑ ﺛﻮﺑﻪ ﺣﺘﻰ
ﺃﺑﺪﻯ ﻋﻦ ﺭﻛﺒﺘﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺃﻣﺎ ﺻﺎﺣﺒﻜﻢ ﻓﻘﺪ ﻏﺎﻣﺮ .
ﻭﻗﺎﻝ : ﺇﻧﻲ ﻛﺎﻥ ﺑﻴﻨﻲ ﻭﺑﻴﻦ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ
ﺷﻲﺀ ، ﻓﺄﺳﺮﻋﺖ ﺇﻟﻴﻪ ﺛﻢ ﻧﺪﻣﺖ ﻓﺴﺄﻟﺘﻪ ﺃﻥ
ﻳﻐﻔﺮ ﻟﻲ ﻓﺄﺑﻰ ﻋﻠﻲّ ، ﻓﺄﻗﺒﻠﺖ ﺇﻟﻴﻚ ﻓﻘﺎﻝ :
ﻳﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻚ ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ – ﺛﻼﺛﺎ – ﺛﻢ ﺇﻥ ﻋﻤﺮ
ﻧﺪﻡ ﻓﺄﺗﻰ ﻣﻨﺰﻝ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﻓﺴﺄﻝ : ﺃﺛَـﻢّ ﺃﺑﻮ
ﺑﻜﺮ ؟ ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ : ﻻ ، ﻓﺄﺗﻰ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻓﺠﻌﻞ
ﻭﺟﻪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺘﻤﻌّﺮ ،
ﺣﺘﻰ ﺃﺷﻔﻖ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻓﺠﺜﺎ ﻋﻠﻰ ﺭﻛﺒﺘﻴﻪ
ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻧﺎ ﻛﻨﺖ ﺃﻇﻠﻢ –
ﻣﺮﺗﻴﻦ – ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ : ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻌﺜﻨﻲ ﺇﻟﻴﻜﻢ ﻓﻘﻠﺘﻢ :
ﻛﺬﺑﺖ ، ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ : ﺻَﺪَﻕ ، ﻭﻭﺍﺳﺎﻧﻲ
ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ ، ﻓﻬﻞ ﺃﻧﺘﻢ ﺗﺎﺭﻛﻮ ﻟﻲ ﺻﺎﺣﺒﻲ
– ﻣﺮﺗﻴﻦ – ﻓﻤﺎ ﺃﻭﺫﻱ ﺑﻌﺪﻫﺎ
“Aku pernah duduk di sebelah Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam. Tiba-
tiba datanglah Abu Bakar
menghadap Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam sambil menjinjing ujung
pakaiannya hingga terlihat lututnya.
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
berkata: ‘Sesungguhnya teman kalian
ini sedang gundah‘. Lalu Abu Bakar
berkata, “Wahai Rasulullah, antara
aku dan Ibnul Khattab terjadi
perselisihan, aku pun segera
mendatanginya untuk meminta maaf,
kumohon padanya agar memaafkan
aku namun dia enggan
memaafkanku, karena itu aku datang
menghadapmu sekarang’. Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam lalu
berkata: ‘“ Semoga Allah
mengampunimu wahai Abu Bakar‘.
Sebanyak tiga kali, tak lama setelah
itu Umar menyesal atas
perbuatannya, dan mendatangi
rumah Abu Bakar sambil bertanya,
“Apakah di dalam ada Abu Bakar?”
Namun keluarganya menjawab,
tidak. Umar segera mendatangi
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam. Sementara wajah
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam terlihat memerah karena
marah, hingga Abu Bakar merasa
kasihan kepada Umar dan memohon
sambil duduk di atas kedua
lututnya, “Wahai Rasulullah Demi
Allah sebenarnya akulah yang
bersalah”, sebanyak dua kali. Maka
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda, ‘ Sesungguhnya
ketika aku diutus Allah kepada
kalian, ketika itu kalian mengatakan,
”Engkau pendusta wahai
Muhammad”, Sementara Abu Bakar
berkata, ”Engkau benar wahai
Muhammad”. Setelah itu dia
membelaku dengan seluruh jiwa dan
hartanya. Lalu apakah kalian tidak
jera menyakiti sahabatku? ‘ sebanyak
dua kali. Setelah itu Abu Bakar tidak
pernah disakiti” (HR. Bukhari)
Beliau juga orang yang paling
pertama beriman kepada Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam,
menemani Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam dan
membenarkan perkataannya. Hal ini
terus berlanjut selama Rasulullah
tinggal di Mekkah, walaupun banyak
gangguan yang datang. Abu Bakar
juga menemani Rasulullah ketika
hijrah.
2. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah
orang yang menemani Nabi
Muhammad Shallallahu’alaihi
Wasallam di gua ketika dikejar
kaum Quraisy
Allah Ta’ala berfirman,
ﺛَﺎﻧِﻲَ ﺍﺛْﻨَﻴْﻦِ ﺇِﺫْ ﻫُﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻐَﺎﺭِ ﺇِﺫْ ﻳَﻘُﻮﻝُ
ﻟِﺼَﺎﺣِﺒِﻪِ ﻻَ ﺗَﺤْﺰَﻥْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻣَﻌَﻨَﺎ
“Salah seorang dari dua orang ketika
keduanya berada dalam gua, di
waktu dia berkata kepada temannya:
“Janganlah kamu bersedih,
sesungguhnya Allah beserta
kita”” (QS. At Taubah: 40)
As Suhaili berkata: “Perhatikanlah
baik-baik di sini Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam berkata
‘janganlah kamu bersedih’ namun
tidak berkata ‘janganlah kamu takut’
karena ketika itu rasa sedih Abu
Bakar terhadap keselamatan
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam sangat mendalam sampai-
sampai rasa takutnya terkalahkan”.
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim,
dari hadits Anas bin Malik
Radhiallahu’anhu , Abu Bakar berkata
kepadanya:
ﻧﻈﺮﺕ ﺇﻟﻰ ﺃﻗﺪﺍﻡ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺭﺅﻭﺳﻨﺎ
ﻭﻧﺤﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﺎﺭ ﻓﻘﻠﺖ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻮ ﺃﻥ
ﺃﺣﺪﻫﻢ ﻧﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﻗﺪﻣﻴﻪ ﺃﺑﺼﺮﻧﺎ ﺗﺤﺖ
ﻗﺪﻣﻴﻪ . ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻣﺎ ﻇﻨﻚ ﺑﺎﺛﻨﻴﻦ
ﺍﻟﻠﻪ ﺛﺎﻟﺜﻬﻤﺎ
“Ketika berada di dalam gua, aku
melihat kaki orang-orang musyrik
berada dekat dengan kepala kami.
Aku pun berkata kepada Rasulullah:
‘Wahai Rasulullah, kalau di antara
mereka ada yang melihat kakinya,
mereka akan melihat kita di bawah
kaki mereka’. Rasulullah berkata:
‘Wahai Abu Bakar, engkau tidak tahu
bahwa bersama kita berdua yang
ketiga adalah Allah’ ”
Ketika hendak memasuki gua pun,
Abu Bakar masuk terlebih dahulu
untuk memastikan tidak ada hal
yang dapat membahayakan Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam. Juga
ketika dalam perjalanan hijrah, Abu
Bakar terkadang berjalan di depan
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam,
terkadang di belakangnya, terkadang
di kanannya, terkadang di kirinya.
Oleh karena itu ketika masa
pemerintahan Umar bin Khattab
Radhiallahu’anhu ada sebagian
orang yang menganggap Umar lebih
utama dari Abu Bakar, maka Umar
Radhiallahu’anhu pun berkata:
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻟﻠﻴﻠﺔ ﻣﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺁﻝ ﻋﻤﺮ ،
ﻭﻟﻴﻮﻡ ﻣﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺁﻝ ﻋﻤﺮ ، ﻟﻘﺪ
ﺧﺮﺝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﻟﻴﻨﻄﻠﻖ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻐﺎﺭ ﻭﻣﻌﻪ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ، ﻓﺠﻌﻞ
ﻳﻤﺸﻲ ﺳﺎﻋﺔ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻳﻪ ﻭﺳﺎﻋﺔ ﺧﻠﻔﻪ ،
ﺣﺘﻰ ﻓﻄﻦ ﻟﻪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻣﺎﻟﻚ ﺗﻤﺸﻲ ﺳﺎﻋﺔ
ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻱ ﻭﺳﺎﻋﺔ ﺧﻠﻔﻲ ؟ ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ
ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺫﻛﺮ ﺍﻟﻄﻠﺐ ﻓﺄﻣﺸﻲ ﺧﻠﻔﻚ ، ﺛﻢ ﺃﺫﻛﺮ
ﺍﻟﺮﺻﺪ ﻓﺄﻣﺸﻲ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻳﻚ . ﻓﻘﺎﻝ : ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ
ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺷﻲﺀ ﺃﺣﺒﺒﺖ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻚ ﺩﻭﻧﻲ ؟
ﻗﺎﻝ : ﻧﻌﻢ ﻭﺍﻟﺬﻱ ﺑﻌﺜﻚ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻣﺎ ﻛﺎﻧﺖ
ﻟﺘﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﻣُﻠﻤّﺔ ﺇﻻ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﻲ ﺩﻭﻧﻚ ،
ﻓﻠﻤﺎ ﺍﻧﺘﻬﻴﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻐﺎﺭ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ : ﻣﻜﺎﻧﻚ ﻳﺎ
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﺘﻰ ﺍﺳﺘﺒﺮﺉ ﺍﻟﺠﺤﺮﺓ ، ﻓﺪﺧﻞ
ﻭﺍﺳﺘﺒﺮﺃ ، ﻗﻢ ﻗﺎﻝ : ﺍﻧﺰﻝ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ،
ﻓﻨﺰﻝ . ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻧﻔﺴﻲ ﺑﻴﺪﻩ ﻟﺘﻠﻚ
ﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺁﻝ ﻋﻤﺮ
“Demi Allah, satu malamnya Abu
Bakar lebih baik dari satu malamnya
keluarga Umar, satu harinya Abu
Bakar masih lebih baik dari
seharinya keluarga Umar. Abu Bakar
bersama Rasulullah pergi ke dalam
gua. Ketika berjalan, dia terkadang
berada di depan Rasulullah dan
terkadang di belakangnya. Sampai-
sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam heran dan berkata: ‘Wahai
Abu Bakar mengapa engkau berjalan
terkadang di depan dan terkadang di
belakang?’. Abu Bakar berkata: ‘Ya
Rasulullah, ketika saya sadar kita
sedang dikejar, saya berjalan di
belakang. Ketika saya sadar bahwa
kita sedang mengintai, maka saya
berjalan di depan’. Rasulullah lalu
berkata: ‘Wahai Abu Bakar, kalau ada
sesuatu yang aku suka engkau saja
yang melakukannya tanpa aku?’ Abu
Bakar berkata: ‘Demi Allah, tidak ada
yang lebih tepat melainkan hal itu
aku saja yang melakukan tanpa
dirimu’. Ketika mereka berdua
sampai di gua, Abu Bakar berkata:
‘Ya Rasulullah aku akan berada di
tempatmu sampai memasuki gua.
Kemudian mereka masuk, Abu Bakar
berkata: Turunlah wahai Rasulullah.
Kemudian mereka turun. Umar
berkata: ‘Demi Allah, satu malamnya
Abu Bakar lebih baik dari satu
malamnya keluarga Umar’ ‘” (HR. Al
Hakim, Al Baihaqi dalam Dalail An
Nubuwwah)
3. Ketika kaum muslimin hendak
berhijrah, Abu Bakar Ash Shiddiq
menyumbangkan seluruh hartanya.
(Dalilnya disebutkan pada poin 8,
pent.)
4. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah
khalifah pertama
Dan kita diperintahkan oleh
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam untuk meneladani khulafa
ar rasyidin , sebagaimana sabda
beliau:
ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺴﻨﺘﻲ ﻭﺳﻨﺔ ﺍﻟﺨﻠﻔﺎﺀ ﺍﻟﺮﺍﺷﺪﻳﻦ
ﺍﻟﻤﻬﺪﻳﻴﻦ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻱ ﻋﻀﻮﺍ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺑﺎﻟﻨﻮﺍﺟﺬ
“Hendaknya kalian berpegang teguh
pada sunnahku dan sunnah khulafa
ar rasyidin setelahku. Gigitlah
dengan gigi geraham kalian” (HR.
Ahmad, At Tirmidzi dan lainnya.
Hadits ini shahih dengan seluruh
jalannya)
5. Abu Bakar Ash Shiddiq dipilih
sebagai khalifah berdasarkan nash
Ketika Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam sakit keras, beliau
memerintahkan Abu Bakar untuk
menjadi imam shalat berjama’ah.
Dalam Shahihain, dari ‘Aisyah
Radhiallahu’anha ia berkata:
ﻟﻤﺎ ﻣَﺮِﺽَ ﺍﻟﻨﺒﻲّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﻣﺮَﺿَﻪُ ﺍﻟﺬﻱ ﻣﺎﺕَ ﻓﻴﻪ ﺃَﺗﺎﻩُ ﺑﻼﻝٌ ﻳُﺆْﺫِﻧﻪُ
ﺑﺎﻟﺼﻼﺓِ ﻓﻘﺎﻝ : ﻣُﺮﻭﺍ ﺃَﺑﺎ ﺑﻜﺮٍ ﻓﻠْﻴُﺼَﻞّ . ﻗﻠﺖُ :
ﺇﻥّ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮٍ ﺭﺟﻞٌ ﺃَﺳِﻴﻒٌ ‏[ ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ : ﺭﺟﻞ
ﺭﻗﻴﻖ ‏] ﺇﻥ ﻳَﻘُﻢْ ﻣَﻘﺎﻣَﻚَ ﻳﺒﻜﻲ ﻓﻼ ﻳﻘﺪِﺭُ ﻋَﻠَﻰ
ﺍﻟﻘِﺮﺍﺀَﺓِ . ﻗﺎﻝ : ﻣُﺮﻭﺍ ﺃَﺑﺎ ﺑﻜﺮٍ ﻓﻠْﻴُﺼﻞّ . ﻓﻘﻠﺖُ
ﻣﺜﻠَﻪُ : ﻓﻘﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔِ – ﺃَﻭِ ﺍﻟﺮﺍﺑﻌﺔِ : –
ﺇِﻧّﻜﻦّ ﺻَﻮﺍﺣﺐُ ﻳﻮﺳﻒَ ! ﻣُﺮﻭﺍ ﺃَﺑﺎ ﺑﻜﺮٍ ﻓﻠْﻴُﺼﻞّ ،
ﻓﺼﻠّﻰ
“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam sakit menjelang wafat,
Bilal datang meminta idzin untuk
memulai shalat. Rasulullah
bersabda: ‘Perintahkan Abu Bakar
untuk menjadi imam dan shalatlah’.
‘Aisyah berkata: ‘Abu Bakar itu orang
yang terlalu lembut, kalau ia
mengimami shalat, ia mudah
menangis. Jika ia menggantikan
posisimu, ia akan mudah menangis
sehingga sulit menyelesaikan bacaan
Qur’an. Nabi tetap berkata:
‘Perintahkan Abu Bakar untuk
menjadi imam dan shalatlah’.
‘Aisyah lalu berkata hal yang sama,
Rasulullah pun mengatakan hal yang
sama lagi, sampai ketiga atau
keempat kalinya Rasulullah berkata:
‘Sesungguhnya kalian itu (wanita)
seperti para wanita pada kisah
Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk
menjadi imam dan shalatlah’”
Oleh karena itu Umar bin Khattab
Radhiallahu’anhu berkata:
ﺃﻓﻼ ﻧﺮﺿﻰ ﻟﺪﻧﻴﺎﻧﺎ ﻣﻦ ﺭﺿﻴﻪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﺪﻳﻨﻨﺎ
“Apakah kalian tidak ridha kepada
Abu Bakar dalam masalah dunia,
padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam telah ridha kepadanya
dalam masalah agama? ”
Juga diriwayatkan dari ‘Aisyah
Radhiallahu’anha , ia berkata:
ﻗﺎﻝ ﻟﻲ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﻓﻲ ﻣﺮﺿﻪ : ﺍﺩﻋﻲ ﻟﻲ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﺃﺧﺎﻙ ﺣﺘﻰ
ﺍﻛﺘﺐ ﻛﺘﺎﺑﺎ ، ﻓﺈﻧﻲ ﺃﺧﺎﻑ ﺃﻥ ﻳﺘﻤﻨﻰ ﻣﺘﻤﻦٍّ
ﻭﻳﻘﻮﻝ ﻗﺎﺋﻞ : ﺃﻧﺎ ﺃﻭﻟﻰ ، ﻭﻳﺄﺑﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻭﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻮﻥ ﺇﻻ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﺟﺎﺀﺕ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻜﻠﻤﺘﻪ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ
ﻓﺄﻣﺮﻫﺎ ﺑﺄﻣﺮ ، ﻓﻘﺎﻟﺖ : ﺃﺭﺃﻳﺖ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
ﺇﻥ ﻟﻢ ﺃﺟﺪﻙ ؟ ﻗﺎﻝ : ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺠﺪﻳﻨﻲ ﻓﺄﺗﻲ ﺃﺑﺎ
ﺑﻜﺮ
“Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam berkata kepadaku ketika
beliau sakit, panggilah Abu Bakar
dan saudaramu agar aku dapat
menulis surat. Karena aku khawatir
akan ada orang yang berkeinginan
lain (dalam masalah khilafah)
sehingga ia berkata: ‘Aku lebih
berhak’. Padahal Allah dan kaum
mu’minin menginginkan Abu Bakar
(yang menjadi khalifah). Kemudian
datang seorang perempuan kepada
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
mengatakan sesuatu, lalu Nabi
memerintahkan sesuatu kepadanya.
Apa pendapatmu wahai Rasulullah
kalau aku tidak menemuimu? Nabi
menjawab: ‘Kalau kau tidak
menemuiku, Abu Bakar akan
datang’ ” (HR. Bukhari-Muslim)
6. Umat Muhammad diperintahkan
untuk meneladani Abu Bakar Ash
Shiddiq
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
bersabda,
ﺍﻗﺘﺪﻭﺍ ﺑﺎﻟﻠﺬﻳﻦ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻱ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ
“Ikutilah jalan orang-orang
sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan
Umar ” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu
Maajah, hadits ini shahih)

Read More

Salahudin al ayubi

ahuddin Ayyubi atau Saladin
atau Salah ad-Din ( Bahasa Arab :
ﺻﻼﺡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻷﻳﻮﺑﻲ , Kurdi : ﺻﻼﺡ ﺍﻟﺪﯾﻦ
ﺍﯾﻮﺑﯽ ) ( Sho-lah-huud-din al-ay-yu-bi )
(c. 1138 - 4 Maret 1193 ) adalah
seorang jendral dan pejuang muslim
Kurdi dari Tikrit (daerah utara Irak
saat ini). Ia mendirikan Dinasti
Ayyubiyyah di Mesir, Suriah,
sebagian Yaman , Irak, Mekkah Hejaz
dan Diyar Bakr. Salahuddin terkenal
di dunia Muslim dan Kristen karena
kepemimpinan, kekuatan militer, dan
sifatnya yang ksatria dan
pengampun pada saat ia berperang
melawan tentara salib. Sultan
Salahuddin Al Ayyubi juga adalah
seorang ulama. Ia memberikan
catatan kaki dan berbagai macam
penjelasan dalam kitab hadits Abu
Dawud
Latar belakang
Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari
bangsa Kurdi . [1] Ayahnya Najmuddin
Ayyub dan pamannya Asaduddin
Syirkuh hijrah (migrasi)
meninggalkan kampung halamannya
dekat Danau Fan dan pindah ke
daerah Tikrit (Irak). Shalahuddin
lahir di benteng Tikrit, Irak tahun
532 H/ 1137 M, ketika ayahnya
menjadi penguasa Seljuk di Tikrit.
Saat itu, baik ayah maupun
pamannya mengabdi kepada
Imaduddin Zanky , gubernur Seljuk
untuk kota Mousul, Irak. Ketika
Imaduddin berhasil merebut wilayah
Balbek , Lebanon tahun 534 H/1139
M, Najmuddin Ayyub (ayah
Shalahuddin) diangkat menjadi
gubernur Balbek dan menjadi
pembantu dekat Raja Suriah
Nuruddin Mahmud . Selama di
Balbek inilah, Shalahuddin mengisi
masa mudanya dengan menekuni
teknik perang, strategi, maupun
politik. Setelah itu, Shalahuddin
melanjutkan pendidikannya di
Damaskus untuk mempelajari teologi
Sunni selama sepuluh tahun, dalam
lingkungan istana Nuruddin. Pada
tahun 1169, Shalahudin diangkat
menjadi seorang wazir (konselor).
Di sana, dia mewarisi peranan sulit
mempertahankan Mesir melawan
penyerbuan dari Kerajaan Latin
Jerusalem di bawah pimpinan
Amalrik I. Posisi ia awalnya
menegangkan. Tidak ada seorangpun
menyangka dia bisa bertahan lama
di Mesir yang pada saat itu banyak
mengalami perubahan pemerintahan
di beberapa tahun belakangan oleh
karena silsilah panjang anak khalifah
mendapat perlawanan dari wazirnya.
Sebagai pemimpin dari prajurit
asing Syria, dia juga tidak memiliki
kontrol dari Prajurit Shiah Mesir,
yang dipimpin oleh seseorang yang
tidak diketahui atau seorang
Khalifah yang lemah bernama Al-
Adid. Ketika sang Khalifah meninggal
bulan September 1171, Saladin
mendapat pengumuman Imam
dengan nama Al-Mustadi, kaum
Sunni, dan yang paling penting,
Abbasid Khalifah di Baghdad, ketika
upacara sebelum Salat Jumat, dan
kekuatan kewenangan dengan
mudah memecat garis keturunan
lama. Sekarang Saladin menguasai
Mesir, tapi secara resmi bertindak
sebagai wakil dari Nuruddin, yang
sesuai dengan adat kebiasaan
mengenal Khalifah dari Abbasid.
Saladin merevitalisasi perekonomian
Mesir, mengorganisir ulang kekuatan
militer, dan mengikuti nasihat
ayahnya, menghindari konflik apapun
dengan Nuruddin, tuannya yang
resmi, sesudah dia menjadi
pemimpin asli Mesir. Dia menunggu
sampai kematian Nuruddin sebelum
memulai beberapa tindakan militer
yang serius: Pertama melawan
wilayah Muslim yang lebih kecil, lalu
mengarahkan mereka melawan para
prajurit salib.
Timur Tengah (1190 M.). Wilayah
kekuasaan Shalahuddin (warna
merah); Wilayah yang direbut
kembali dari pasukan salib
1187-1189 (warna merah muda).
Warna hijau terang menandakan
wilayah pasukan salib yang masih
bertahan sampai meninggalnya
Shalahuddin
Dengan kematian Nuruddin (1174)
dia menerima gelar Sultan di Mesir.
Disana dia memproklamasikan
kemerdekaan dari kaum Seljuk, dan
dia terbukti sebagai penemu dari
dinasti Ayyubid dan mengembalikan
ajaran Sunni ke Mesir. Dia
memperlebar wilayah dia ke sebelah
barat di maghreb, dan ketika paman
dia pergi ke Nil untuk mendamaikan
beberapa pemberontakan dari bekas
pendukung Fatimid, dia lalu
melanjutkan ke Laut Merah untuk
menaklukan Yaman. Dia juga disebut
Waliullah yang artinya teman Allah
bagi kaum muslim Sunni.
Aun 559-564 H/ 1164-1168 M. Sejak
itu Asaduddin, pamannya diangkat
menjadi Perdana Menteri Khilafah
Fathimiyah. Setelah pamnnya
meninggal, jabatan Perdana Menteri
dipercayakan Khalifah kepada
Shalahuddin Al-Ayyubi.
Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil
mematahkan serangan Tentara Salib
dan pasukan Romawi Bizantium yang
melancarkan Perang Salib kedua
terhadap Mesir. Sultan Nuruddin
memerintahkan Shalahuddin
mengambil kekuasaan dari tangan
Khilafah Fathimiyah dan
mengembalikan kepada Khilafah
Abbasiyah di Baghdad mulai tahun
567 H/1171 M (September). Setelah
Khalifah Al-'Adid, khalifah Fathimiyah
terakhir meninggal maka kekuasaan
sepenuhnya di tangan Shalahuddin
Al-Ayyubi.
Sultan Nuruddin meninggal tahun
659 H/1174 M, Damaskus diserahkan
kepada puteranya yang masih kecil
Sultan Salih Ismail didampingi
seorang wali. Dibawah seorang wali
terjadi perebutan kekuasaan di
antara putera-putera Nuruddin dan
wilayah kekuasaan Nurruddin
menjadi terpecah-pecah.
Shalahuddin Al-Ayyubi pergi ke
Damaskus untuk membereskan
keadaan, tetapi ia mendapat
perlawanan dari pengikut Nuruddin
yang tidak menginginkan persatuan.
Akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi
melawannya dan menyatakan diri
sebagai raja untuk wilayah Mesir dan
Syam pada tahun 571 H/1176 M dan
berhasil memperluas wilayahnya
hingga Mousul, Irak bagian utara.
Naik ke kekuasaan
Di kemudian hari Saladin menjadi
wazir pada 1169, dan menerima
tugas sulit mempertahankan Mesir
dari serangan Raja Latin Yerusalem ,
khususnya Amalric I. Kedudukannya
cukup sulit pada awalnya, sedikit
orang yang beranggapan ia akan
berada cukup lama di Mesir
mengingat sebelumnya telah banyak
terjadi pergantian pergantian
kekuasaan dalam beberapa tahun
terakhir disebabkan bentrok yang
terjadi antar anak-anak Kalifah
untuk posisi wazir . Sebagai
pemimpin dari pasukan asing
Suriah , dia juga tidak memiliki
kekuasaan atas pasukan Syi'ah Mesir
yang masih berada di bawah
Khalifah yang lemah, Al-Adid.

Sumber: wikipedia

Read More

baca juga

iklan